0
Setiap kumelihatmu
Ku terasa di hati
Kau punya segalanya
Yang aku impikan

Kenanganku tak henti
Sajak tentang bayangmu
Walau kutahu
Kau tak pernah anggap ku ada

Ku tak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih
Aku tak mungkin lepas lagi

Kau hanya mimpi bagiku
Tak untuk jadi nyata
Dan sgala rasa buatmu
Harus padam dan berakhir

Kan selalu
Kurasa hadirmu
Antara ada dan tiada…

(Utopia – Antara Ada dan Tiada)

Rumah itu tampak asri, pohon besar Bintaro berjajar dua di depan pagarnya. Halaman di dalamnya pun indah oleh taman yang terawat rapi. Suara siaran televisi tampak terdengar dari dalam rumah.

Ada suara tawa kencang anak kecil dari belakang rumah yang tampak teduh oleh pepohonan.

Dua titik bergerak kesana-kemari, berteriak, melompat. Bermain permainan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Suara cekikikan terdengar lagi, mereka tengah bercanda dengan memakai bahasa mereka sendiri. Kepolosan anak kecil yang tidak akan dimengerti oleh orang dewasa.

Dua titik itu, dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan. Menikmati masa kanak-kanaknya yang tanpa beban.

Di tengah gelak tawa tanpa dosa mereka, anak perempuan itu meraba sisi samping bajunya, seakan hendak memastikan sesuatu.

"Aku capek." Anak laki-laki itu manjatuhkan pantatnya ke tanah.

Sudah waktunya, pikir si anak perempuan.

Panas matahari sore tak menyurutkan keinginan  gadis kecil berusia enam tahun itu. Keringat mulai keluar di keningnya yang tertutup oleh poni pendek -terlalu pendek– hingga dia terlihat mirip boneka Jepang lucu. Wajahnya masih tersenyum, memperlihatkan dua buah bulatan lesung di pipinya yang montok.

"Raka! Kamu tarik dus itu! Ayolah!" teriaknya pada anak laki-laki yang sebaya dirinya itu. Yang dipanggil menggaruk kepalanya-dia sudah merasa lelah sekarang- namun menurut juga. Dia menarik sebuah kardus bekas tv milik ayahnya yang dibuang begitu saja di pojok kebun belakang rumahnya.

Angin berdesir, menggerakkan sebagian ranting kecil pohon mangga yang tinggi menjulang melindungi dari tangan-tangan panas sang mentari.

Sesekali selembar daun kering melayang, jatuh perlahan ke tanah di dekat kaki-kaki mungil berbungkus sandal jepit berwarna-warni lalu bergabung dengan ratusan helai lainnya menutupi hampir seluruh kebun kecil tempat bermain mereka.

"Sekarang isi dus pakai kayu-kayu, Raka. Cepetan!"

"Buat apa sih?" tanya Raka, bermalas-malasan tangannya memunguti ranting-ranting yang terjatuh ke tanah, ranting tanaman bunga kaca piring dan bunga sepatu yang menjadi pagar hidup, lalu melempar sekenanya ke dalam dus.

Eve berkacak pinggang, menatap ke dalam kardus yang jauh dari penuh. Matanya berputar, dia terdiam seakan berpikir.

"Percuma. Ini seperti mengisi laut pakai sirup, itu kata mama…"

"Sirup? Aku haus." Potong Raka.

Eve menggerakkan kepalanya melirik Raka yang terlihat tersiksa, mungkin benar dia kehausan. Aku harus cepat-cepat! Pikirnya sambil mengembangkan senyum lebar. Senyuman yang biasa dia pakai apabila menghendaki sesuatu dari orang lain.

Eve memasukkan tangannya ke dalam saku baju 'monyet' nya, mengeluarkan sesuatu berwarna putih.

"Apaan sih?" rasa bosan yang hinggap secara tiba-tiba menemani gadis di hadapannya bermain seharian, dikalahkan oleh rasa penasarannya.

"Mawar putih. Aku ambil dari vas di rumah aku!" jawab Eve sambil berusaha memperbaiki beberapa kelopak bunga yang terkoyak, bahkan beberapa helainya terlihat menghilang dari tempatnya.

"Aku mau pulang. Aku haus," kata Raka. Rasa penasarannya sudah hilang. Tidak ada yang menarik dari bunga, mainan cewek. Dia sudah membalik badannya.

"Tunggu dulu! Sebentar! Kamu nggak boleh pulang kalau belum kerjain ini!" pekik Eve.

Raka mengernyitkan dahinya, lalu membalikkan badannya lagi di depan Eve. Dia tak pernah sanggup menolak permintaan teman seberang rumahnya itu.

"Habis ini aku pulang," jawab Raka pendek. Mendengar Eve berteriak kencang dan menangis adalah hal yang paling dihindarinya. Eve tersenyum lagi, rasa kesalnya tidak sempat berkembang. Lalu menganggukkan kepalanya menyetujui  syarat Raka.

"Sini, berdiri dalam dus. Kita mau kawin!" kata Eve dengan nada penuh semangat.

Raka terperangah, dan badannya tersentak oleh tarikan tangan Eve yang tiba-tiba.

"Ini kamu pegang bunga ini." Eve menyerahkan mawar putih yang ada di genggamannya –yang semakin tak menyerupai mawar. Raka menerima, godaan sirup dingin menguasai pikirannya saat ini. Sekarang hanya perlu mengikuti keinginan Eve saja, setelah itu, bebas!

Eve menggapai tangan Raka, mereka berdua berhadapan, sinar matahari membentuk bilah cahaya di wajah mereka berdua.

"Bilang begini Raka…" Eve menarik napas panjang, masih dengan senyuman manis di wajahnya. Raka mengangkat alisnya tidak sabar. "Aku mau… sebentar, aku lupa…" senyuman di wajah Eve menghilang. Raka menggaruk keras kepalanya, merasa tidak sabar.

"Ah! Begini aja! 'Christina Evelynne, aku Raka Agung Dinata sekarang jadi pengantin kamu, selamanya! Kayak papa-mama!"

Raka bengong, mulutnya terbuka lebar, tidak mengerti permintaan Eve. Cubitan kecil di lengannya dan mata Eve yang melotot membuatnya mengatupkan mulutnya seketika.

"Christina Evelynne, aku … ng… Raka Agung Dinata… ng… sekarang jadi pengantin kamu, ng… kayak papa-mama…"

Raka mengucapkan kalimat persis seperti yang diucapkan oleh Eve.

"Selamanya!" tambah Eve.

"Selamanya…" sambung Raka. Eve mengikik oleh rasa senang.

"Kita suami istri!" kata gadis kecil itu dengan wajah berbinar.

"Sudahan kan?" tanya Raka, kini wajahnya memelas. Eve mengangguk, tangannya asyik memainkan bunga di tangannya, tubuhnya berayun. Lesung pipinya masih tercetak jelas.

Tak butuh menit bagi Raka untuk melarikan diri, melompat keluar dari kardus tivi, berhambur masuk ke dalam rumahnya sendiri.

Eve melangkah keluar dari kardus 'pengantinnya'. Dia merasa upacara sakralnya sudah selesai. Digenggamnya erat bunga putih saksi janji mereka berdua. Dia tersenyum puas, lalu berlari memasuki rumah Raka.

Dia tidak melihat Raka. Di dapur pun Raka tidak ada, namun ada jejak tertinggal di meja dapur, gelas kosong dengan sedikit sisa air sirup di dalamnya.

Eve tidak tertarik untuk melakukan hal lainnya, dia melesat keluar meninggalkan dapur ke arah luar.

"Halooo tanteee, aku pulanggg…."

Eve berteriak tanpa mengurangi laju langkahnya.

Ibu Raka menoleh cepat, namun kalah cepat dengan gerakan Eve. Dia tersenyum geli sendiri melihat kelakuan anak tetangganya itu.

Eve membuka gerbang rumah Raka dengan penuh semangat, lalu menutupnya lagi. Dia berhenti sejenak, menengok ke kiri dan ke kanan sebelum kaki kecilnya berlari lagi menyeberangi jalanan.

Aku harus mandi dulu, setelah itu aku mau cari Raka, pikirnya sambil membuka gerbang rumahnya sendiri.

Dia suka Raka, suka sekali. Dia ingin Raka terus bermain bersamanya. Hanya bersamanya. Selamanya.

***

Lima tahun kemudian…

"Eve… Eve… bangun sayang…"

Aku mengerjapkan mataku.

"Bangun sayang, ayo, kita mau pergi."

Pergi? Kemana?

Aku terbangun, dengan mata masih terasa begitu sepat. Ketika aku berdiri, Mama secepat kilat mengganti bajuku. Ada apa ini? Aku melihat wajah mama yang begitu tegang.

"Sudah. Ayo cepat. Papa sudah menunggu kita di bawah."

"Mau ke mana, Ma?"

"Ikut Papa. Ayo!"

Lalu setengah menyeretku, aku mengikuti langkahnya keluar dari kamarku. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku menyentak kuat dari gengggaman tangannya lalu kembali masuk ke dalam kamar, aku menyambar boneka pemberian Raka yang ada di atas ranjangku.

"Eve!"

Mama memanggil. Aku berlari menghampirinya.

Papa sudah menunggu di bawah, dengan tiga koper besar di dekatnya. Papa menyuruhku langsung masuk ke dalam mobil.

"Ma… kita mau ke mana? Berapa lama?"

"Ke Singapura. Kita pindah ke sana."

Pindah?

Itu artinya… aku tidak akan tinggal di sini lagi… artinya… aku tidak akan melihat Raka-ku lagi.

"Aku nggak mau!"

"Sayang… kita ikuti Papa, jangan rewel, nanti Papa marah."

"Tapi, Ma…"

Mobil mulai berjalan, di antara gelapnya malam. Berselimut kesunyian. Mengapa terasa begitu mencekam bagiku?

"Aku mau di sini saja, Ma…" rengekku di tengah kepanikan yang tiba-tiba menyergapku. Mama diam.

Aku menoleh ke belakang, memandang ke sebuah rumah yang tampak mengecil-mengecil-lalu hilang dari pandanganku.

Aku menghempaskan diriku ke jok mobil, pikiranku bergumul.

Raka…

Aku melihat kedua orangtuaku hanya diam tak banyak kata.

Aku memeluk boneka kecil yang berwarna kusam, dan tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Aku tidak mengerti perasaan ini, aku hanya sedih, karena akan berjauhan dengan Raka.

***

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top