"Mama, mama, kalau sudah menikah kan nggak boleh berpisah ya, Ma?" suara bening Eve memecah keheningan dapur pagi hari di rumahnya. Dia hanya berdua saja bersama ibunya.
Ibunya menoleh ke arah putri semata wayangnya, terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh seorang anak kecil kelas satu SD.
"Mengapa kamu tanya begitu, Sayang?" tanya wanita itu dengan senyum tersimpul di ujung bibirnya.
"Aku sudah menikah sama Raka!" kata Eve sambil tersenyum lebar. Ibunya tertawa kencang.
"Emang menikah itu apa?" tanya ibunya sambil mengambil tempat duduk di hadapan anaknya itu. Dia merasa percakapan antar dua wanita itu akan menjadi seru.
"Menikah itu… kayak papa-mama! Aku mau maen sama Raka terus! Maen boneka, rumah-rumahan…"
Ibunya tertawa mendengar jawaban lugu keluar dari bibir putrinya yang mungil. Bingung dari mana ide tentang menikah itu berasal. Dia mengelus lengannya yang gempal yang sedang memegang sebuang boneka beruang kecil. Hadiah dari Raka saat ulang tahunnya yang keenam minggu lalu.
"Ya kan, Ma? Nggak boleh berpisah kan, Ma?"
Ibunya menganggukkan kepalanya. Jawaban simbolis itu terekam kuat dalam sanubarinya.
Wajahnya tersenyum lebar, dan dengan sekali lompat dia turun dari kursi dan berlari kencang keluar rumah.
Mencari Raka.
Dia akan selalu mencari Raka-nya.
***
"Entah Raka, aku nggak tahu itu apa… aku takut…" bisikku melalui sambungan teleponnya.
"Sudah, nggak ada apa-apa. Aku sudah bilang untuk pindah dari sana, rumah tingkat terlalu besar buat kamu, Eve. Biarpun kata kamu ada pembantu datang setiap harinya. Kamu nggak mau mendengarkan aku." Nada suara Raka terdengar gemas.
Memang sudah berkali-kali Raka menyuruhku pindah rumah. Tapi ke mana? Mengikuti orangtuaku di Singapura sudah lama tidak termasuk dalam pilihanku. Biarlah aku di kota ini, sendirian. Oh tidak, ada Raka sekarang.
"Aku mau pindah dari sini… ke paviliun kamu, Raka. Boleh, kan?" rengekku untuk ke… puluhan kali mungkin.
"Bandel. Nggak baik dilihat orang bagi gadis seperti kamu. Nggak boleh."
"Tapi aku takut tinggal sendirian." Sekali lagi merengek.
"Kalau ada waktu, kita cari kos wanita buat kamu, ok?" Aku merengut sendiri dan diam. "Eve?"
"Hm..." Jawabku pendek. Aku tidak suka. Bukan ini yang aku mau.
"Ya sudah, sekarang tidur. Besok aku jemput kamu di rumahmu atau di stasiun?"
"Nggak usah." Jawabku singkat, masih agak mendongkol dan penasaran.
"Eve… please…" Aku diam. Raka menghela napas panjang di sana dan aku tahu dia sedang memainkan rokok di jarinya dengan gelisah. Dari dulu Raka tidak pernah tahan kalau aku mengadakan aksi diam seperti ini.
"Ya sudah, nanti aku pikirin lagi. Night, Eve."
"Night," Sahutku pendek, tak ada kecupan panjang buat Raka malam ini. Sambungan teleponnya terputus. Tapi aku yakin, Raka benar-benar sedang mempertimbangkan permintaanku.
Aku menatap kosong lagi pintu kamarku yang selalu terbuka. Beranjak mendekatinya, melongokkan kepalaku keluar, bergidik begitu senyap menerpaku.
Aku seakan melayang-layang di dalam rumah besar ini. Begitu sepi. Aku mencoba memejamkan mataku tadi sebelum Raka meneleponku, tetapi tidak bisa.
Aku mondar-mandir antara kamarku dan lorong panjang penghubung kamar lainnya, menyentuh apa pun yang ada dalam lintasan dan jangkauanku. Aku lelah, tetapi aku tidak bisa tidur. Kesunyian ini memekakkan telingaku, berisik!
Bunyi sesuatu seolah diseret-seret akhirnya menyita perhatianku. Aku menajamkan telingaku. Aku bergerak maju. Suara itu terdengar lagi! Aku berhenti, suara itu ikut diam. Berkali-kali aku melakukannya, dia mengikuti gerakanku! Dia mengikutiku ke mana pun!
Sudah lama sekali aku merasakan ini, sesuatu seakan-akan mengendap-endap mengikutiku!
Suara anjing menggonggong memecah keheningan. Gonggongan itu menjadi auman lara di telingaku. Aku tercekat, menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang. Aku menuruni tangga perlahan hingga tiba di ujung bawah.
Aku menajamkan telingaku, berusaha menangkap bunyi-bunyian lainnya. Bunyi tik-tik-tik air menetes dari keran yang bocor kutangkap akhirnya. Bukannya membuatku tenang, suara itu malah seakan berharmoni dengan suara-suara tidak jelas lainnya yang ada di kepalaku.
Aku diam lalu berbalik, bergerak sangat perlahan menuju ke dalam kamarku di lantai dua. Suara terseret-seret itu menghilang.
Pintu kamar kututup pelan, tak ayal suara derit engsel tuanya terdengar pilu.
Aku membaringkan tubuhku di ranjang besar. Aku lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Mataku menatap ke seluruh penjuru kamarku yang remang-remang, hanya cahaya bulan malu-malu datang dari arah jendela kaca yang tak bertirai.
Sekilas terlihat wallpaper kamarku masih terlihat samar bergambar bunga mawar putih bertangkai panjang. Sama persis dengan bunga mawar yang aku pakai saat menikah dengan Raka, dulu, di bawah pohon mangga.
Aku tersenyum sendiri begitu mengingat tentang Raka. Aku yakin sorot mataku akan lebih berbinar jika mengingat tentang dia.
Bertemu kembali dengan Raka, ibaratkan menemukan kembali jiwaku yang selama ini melayang-layang tak tentu arah.
Ingatanku menelusuri lorong waktu. Setahun lalu, aku menemukan Raka. Raka-ku yang tercinta!
Malam itu, aku berjalan tanpa arah, berkelana mencari Raka. Setiap saat aku mencarinya. Tak pernah berhasil hingga aku melihat seorang laki-laki yang sedang duduk melamun dan merokok di tangga darurat satu gedung perkantoran.
Aku menatapnya lama dari tangga di bawahnya. Dia tidak melihatku. Wajahnya terlihat kusut, rokoknya dihisap dalam-dalam.
"Permisi…" kataku sembari mendekatinya pelan.
Dia tidak menjawab, hanya mengusap-usap tengkuknya dengan tangan kirinya. Dia bahkan tidak menoleh dan menjawab sapaanku.
Aku terus naik ke atas, bergerak perlahan dengan sesekali menoleh lagi ke arahnya. Wajahnya mengingatkanku akan… aku tidak begitu yakin, tapi…
Nada suara handphone berbunyi, milik laki-laki itu. Aku terus berjalan, lalu tiba-tiba aku menghentikan langkahku saat mendengar suara orang itu!
"Sudah selesai! Saya sudah kirim pemberitahuannya tadi. Cari saja di folder database nama saya, Raka Agung Dinata!"
Aku membeku dan membalikkan badanku. Apa aku salah dengar? Tidak! Aku yakin aku benar! Dia… dia Raka! RAKA!
Aku bergerak mendekatinya, namun tiba-tiba dia berdiri, bergegas keluar. Aku memutuskan tanpa berpikir lagi, membuntutinya.
Dia berjalan cepat, membuang puntung rokoknya ke tempat sampah, lalu kembali menggerakkan kakinya menuju arah toilet pria.
Bukan masalah besar, hanya toilet pria. Malam sudah larut, pasti tidak banyak orang yang menggunakan toilet. Demi Raka, jangankan toilet pria, menyeberangi lautan pun aku akan lalui.
"Raka…?" Itu sapaku pertama kali saat aku berhenti mendadak di depan cermin besar, di mana dia tampak sedang memegang pinggiran wastafel, menunduk. Aliran air terlihat menetes dari rambutnya.
Yang kusapa mendongak, melihatku dari bayangan cermin. Dia memiringkan wajahnya, seolah tak melihatku.
"Raka Agung Dinata…?" panggilku lagi sembari menepuk pelan bahunya. Dia menoleh lalu terperangah menatapku. Menatap dengan heran tak berkedip. Saat itulah aku makin yakin, dia Raka-ku! Dia masih memiliki raut wajah Raka kecil!
"Raka Agung Dinata, kan?" tanyaku sekali lagi saat dia hanya diam.
Raka mengerjapkan matanya, sekali, dua kali. "Iya...? Siapa…?" tanyanya ragu. Air dari rambutnya masih menetes, dia menyibakkan rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya. Oh…
Aku tertawa kecil waktu itu dan senyuman lebar aku perlihatkan padanya. Dia belum mengenaliku.
"Kamu nggak ingat aku, Raka?" tanyaku lagi, kusiapkan wajah memelas andalanku, Raka pasti tidak tega, untuk menyangkal, mungkin?
Dia kini menatapku dalam. Memandang mataku lurus, masih tampak bertanya-tanya. Dia masih belum mengenaliku!
"Eve. Aku Eve, Raka… kok kamu nggak kenalin aku sihhh," rungutku.
Tiba-tiba pupil matanya membesar, senyuman mulai terkembang di wajahnya, namun mendadak berubah lagi, seakan tak yakin. Aku tersenyum lebar memperlihatkan kedua lesung pipiku yang kata Raka dulu seperti lubang habis dikorek-korek.
Matanya terbelalak seakan mencuat ke depan, mungkin karena dorongan ingatan yang terlalu kuat menerjang. Aku tersenyum lebar.
Dia mulai tersenyum lagi. "Eve? Kamu Eve? Christina Evelynne?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Dia mengenaliku! Raka mengenaliku! Aku menjerit dan melompat-lompat di hadapannya! Aku benar-benar tidak peduli kalau ada orang lain dalam toilet itu.
"Raka! Raka! Iya, aku Eve! Aku Eve!" seruku kegirangan lalu kupeluk tubuh kurus di depanku itu.
Raka tertawa sambil membalas pelukanku. Dia mengangkat badanku, kebiasaannya dari dulu. Tak ada rasa canggung di antara kami berdua walaupun sekian lama tak berjumpa.
Aku masih memeluknya erat dan sejak saat itu aku bersumpah, aku akan menjadi bayang-bayang dirinya selamanya.
"Eve, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Ngapain di sini??" tanyanya sambil melepaskan pelukanku.
Aku bingung. "Jalan-jalan…" jawabku. Lalu kupeluk lagi, mengalihkan dirinya dari rasa ingin tahunya.
Dia membalas pelukanku lagi. Oh Raka… Raka….
"Lihat dirimu, Eve. Kamu dewasa sekarang. Mana ponimu?" tanya Raka, menatap wajahku tak berkedip.
Aku tersenyum lebar, kupegang kedua tangannya. "Poninya ilang," kataku. menyebutkan jawaban yang sama saat Raka selalu menggodaku dengan menanyakan rambut poniku dulu.
"Ayo ke kantorku, aku lembur. Aku sendirian di kantor, ayo kita ngobrol sebentar. Nggak apa-apa, kan?"
Nggak apa-apa?? Justru aku ingin ngobrol dengannya, selamanya…
Aku mengangguk dan menarik tangannya keluar dari toilet. Gedung sudah sepi, kantor yang lain terlihat sudah gelap dan tertutup rapat. Jam delapan malam lebih.
Raka membukakan pintu kantor, mempersilakan aku masuk. Aku masih memegang tangannya dengan erat, menjadi lintah di tubuhnya.
Raka menarik sebuah kursi menyuruhku duduk, aku menarik kursi itu mendekati kursi Raka. Duduk bersebelahan dengannya. Raka tertawa, mengelus rambutku dengan tangannya. Raka tidak berubah.
"Kamu ke mana aja, Eve? Aku kehilangan kamu sejak saat itu…" kata Raka. Dia membiarkan aku memainkan tangannya. Aku benar-benar bahagia bisa bertemu lagi dengannya.
"Panjang ceritanya, Ka. Ayo, kita pulang!"
"Pulang ke mana kamu? Naik apa tadi? Aku antar ya?" kata Raka sambil membereskan mejanya.
"Aku jalan tadi." Jawabku lalu berdiri mengikuti gerakannya.
"Ok, aku antar kamu…"
"Aku ikut kamu Raka… Pulang ke rumahmu…" kataku.
"Eve… Sudah malam…."
Aku menarik kedua tangannya, menatapnya lekat. Lalu mendekatkan wajahku, berjinjit dan berbisik di telinga kanannya.
"Bawa aku pulang bersama kamu, Raka…."
Raka menatapku kosong. Lalu mengangguk.
Aku melompat-lompat kecil, kegirangan.
Itu pertama kali aku bertemu Raka. Sesuai janjiku, sejak saat itu aku menjadi bayang-bayangnya.
Aku tersenyum sendiri mengingat-ingat lagi, apa yang kulakukan di rumahnya—paviliun kecil satu kamar saat itu.
Aku mengelilingi kamarnya itu, menyentuh setiap benda yang ada di sana, kata Raka aku mirip kucing yang pipis untuk menandakan daerah kekuasaannya. Lucu tapi benar.
"Ceritain ke mana kamu waktu itu?" tanya Raka, begitu dia keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk menutupi tubuh bawahnya. Dan… ya ampun, aku dulu pernah melihat Raka telanjang, tapi itu dulu sebelum tubuhnya terbentuk dengan sempurna seperti sekarang ini, mataku tidak berhenti naik turun mengamati.
"Awalnya aku nggak tahu kenapa tiba-tiba orangtuaku menyuruhku berkemas, aku menurut aja. Masih malam waktu itu, aku juga nggak mandi lagi. Kata Mama nggak apa-apa. Papa-mama sudah nyiapin koper besar, kita semua langsung ke bandara…."
"Bandara? Ngapain?" tanya Raka heran.
"Rekreasi," jawabku sambil melotot padanya.
Raka tertawa, dia berdiri di dekatku, mulai memakai bajunya tanpa rasa sungkan.
"Bukan, mau ke mana?" kata dia mengoreksi pertanyaannya.
"Singapura. Papa dapat informasi akan ada kerusuhan besoknya di Jakarta. Papa panik, dan memutuskan membawa kami semua pindah ke sana malam itu juga."
"Dan memang kerusuhan besar terjadi saat itu, Eve. Aku mencarimu, tapi rumah kamu sudah kosong…." sambung Raka. "Aku menunggumu setiap hari, tapi kamu nggak pernah pulang. Aku benci saat itu!"
Aku tersenyum, aku senang Raka ternyata juga menungguku.
"Aku balik ke Jakarta beberapa tahun kemudian setelah aku ulang tahun keduapuluh."
"Kamu nggak cari aku?"
"Aku cari kamu Raka, setiap hari, tapi kamu sudah nggak di rumah sana…" Aku menunduk, kenangan saat menemukan rumah tanpa Raka di sana membuatku patah hati. Aku menangis, air mataku keluar tanpa bisa kucegah. Rasanya lebih menyakitkan daripada terbangun pagi hari, lalu menyadari dirimu berada di negara berbeda dengan orang yang kamu cintai.
"Hey… kamu kenapa Eve?" Raka duduk di dekatku, sangat dekat. Aku menoleh padanya, air mataku masih mengalir.
"Aku bahagia sekarang, ketemu kamu, Raka. Aku hanya ingat, dulu aku menangis setiap hari. Aku kangen kamu, Raka. Aku pengen bareng kamu terus…."
Raka menatapku, kedua tangannya merengkuh rahangku, kedua ibu jarinya menghapus air mataku.
"Sudah… sudah… sekarang sudah ketemu, kan?"
Aku menahan isakku, dari balik genangan air mataku kulihat wajahnya tersenyum. Garis wajah Raka kecil semakin terlihat di sana. Aku sangat sadar, cinta masa kecil itu telah bertumbuh menjadi besar dan semakin besar. Aku mencintai Raka dengan segenap jiwa, raga, dan hatiku. Aku mencintainya.
Bagaimana pun, aku harus memiliki Raka.
"Sudah, jangan nangis, Eve… Kamu tahu aku nggak suka kamu menangis." Kata Raka, tangannya masih memegang wajahku.
Aku menggerakkan kepalaku, mencium telapak tangannya, lalu menatap ke arahnya lagi. Dia tercekat.
Aku harus bisa memilikinya.
Aku menggerak-gerakkan pipiku yang berada dalam genggamannya. Aku ingin merasakan kehangatan dirinya. Dia masih terdiam. Suasana di antara kami berubah.
"Raka…" aku menurunkan kedua tangannya.
Aku harus memilikinya!
Aku mendekatkan wajahku padanya, kuelus wajahnya dengan tanganku dan kudekatkan bibirku pada bibirnya.
"Aku mencintaimu, Raka…" bisikku lirih, "aku milikmu…."
Bibirku sudah di bibirnya, dia mengecup bibirku sekali, lalu menarik dirinya ke belakang, menatapku dalam sebelum dia menarik leherku dengan tangan kirinya dan mengulum bibirku dengan panas.
Raka menciumku, panas dan dalam.
Tanganku menahan lehernya. Kami saling berpagutan lama, rasa rindu dan cinta kutumpahkan saat itu.
Raka menarik dirinya lagi, napas kami berdua tersengal-sengal. Kami berdua saling menatap dan terdiam.
"Eve… maafkan aku… tidak bisa… aku…." Raka tiba-tiba menunduk, dan mataku bisa melihat pandangannya jatuh tepat ke arah cincin di jari manisnya.
"Aku tahu, kamu sudah punya istri. Aku nggak peduli, Raka. Sejak dulu aku milikmu, kamu boleh memiliki aku…" bisikku padanya.
"Eve…"
"Nggak perlu ngomong lagi…" aku berdiri, "… aku tahu…."
Raka menengadah, menatapku. Aku mundur selangkah, aku ingin dia bisa melihat diriku jelas dan utuh.
Aku menatapnya tepat di matanya, saat tanganku mulai melucuti gaunku, dan matanya mengikuti gerakan gaunku yang jatuh di kakiku. Raka meneguk ludah. Aku senang dia masuk ke dalam kemauanku.
Tanganku melepas penutup dadaku dan membiarkannya jatuh diatas bajuku.
Raka berdiri menghampiriku. Matanya sudah kelam.
Dia milikku!
Dia menunduk, menyelesaikan hal terakhir yang harus kukerjakan: membuka penutup tubuh bawahku.
Raka menunduk, menatap tepat di dadaku, lalu tangannya masing-masing menyentuh kedua bukitku. Bukit perawanku yang sudah lama kusiapkan hanya untuk Raka.
"Indah, Eve… kamu sungguh indah…" katanya sambil menjelajahi bukitku dengan jemarinya.
"Milikmu…" sahutku.
Dia menunduk dan memiringkan kepalanya, dia mengulum puncak bukitku! Aku melenguh. Raka melakukannya dengan lembut, memainkan ujung lidahnya di puncakku dan sesekali menggigitnya.
Raka semakin menunduk, menciumi bagian perutku. Aku menahan diri untuk tidak menekan kepalanya langsung ke bawah. Kedua tangannya mengelus punggungku, pinggangku, bagian bokongku, dan pahaku.
Aku melebarkan kakiku, dia memeluk pahaku dan membenamkan wajahnya di atas gundukan intimku. Mengendusku.
Dia mengangkat wajahnya, melihatku sekilas, lalu mulai mengelus bagian luar milikku yang bersih tanpa sehelai pun rambut.
Aku menahan diriku, ada yang bergejolak dalam tubuhku, seakan sesuatu 'jatuh' mendadak dari dada ke perut hingga ke bagian intimku yang mulai berdenyut.
Pertahananku semakin goyah saat kedua tangannya menyibak bagian itu lebar! Kurasakan hembusan napas hangatnya di bagian paling intimku. Jarinya menggapai masuk ke celahnya, menyentuh lubangku yang lembab. Dia meneguk ludah lagi. Pikirannya sudah terpaku pada diriku.
Jarinya masih membelai lubang intimku… Dan tiba-tiba dia memasukkan jarinya itu! Aku mengencangkan organ intimku.
"Raka…" rengekku. Aku merasakan sesuatu seakan hendak meledak dari dalam diriku.
Raka berdiri dan cepat-cepat melepaskan semua bajunya, aku tidak bisa memindahkan mataku yang begitu ingin tahu bagaimana milik Raka.
Dan miliknya itu telah menghipnotisku.
Saat Raka membaringkan tubuhku di ranjangnya, aku sudah sangat mendambakan miliknya yang panjang dan tegang itu di dalam diriku.
Raka mencumbuku lagi, menciumi bibirku dengan panas, menghisap kedua bukitku seakan hendak melumatnya!
Dia menurunkan lagi badannya berjongkok di depan bagian bawahku. Menyibaknya semakin lebar, dan lidahnya mulai memainkan titik paling sensitif milikku. Aku meronta dan menggelinjang oleh rasa nikmat. Raka terus menjajahiku dengan lidahnya, bergerak intens di sana.
Dia terus menerus mengusap, menusuk, dan menjilat. Aku semakin melayang! Dorongan dalam tubuhku meronta! Tanganku meremas rambut kepalanya, tubuhku terangkat ke arahnya oleh rasa nikmat.
"Oh… Raka… oh! Terus…" ceracauku.
Aku memanggil-manggil namanya, tubuhku membungkuk mengejar kenikmatan yang semakin mendekat. Lidahnya masih bergerak dengan kecepatan yang sama.
Aku meliukkan badanku, pinggulku, semakin naik, semakin tinggi gairahku.
"Raka...!!!" jeritku saat klimaksku datang. Aku meremas rambutnya kencang, Raka menghentikan aksinya dan melihat kearahku dengan wajah puas.
Aku masih menikmati denyutan kepuasanku saat Raka membuka lebar kedua kakiku, dia menyiapkan dirinya untuk memasukiku.
Dia bergerak pelan, lalu menatapku.
"Sempit sekali, Eve…" katanya sambil terus berusaha mendorong. Aku tidak menjawab, diriku masih berada dalam zona orgasmeku. Saat dia mendorong kuat dirinya, aku mengernyit, menggigit bibirku karena rasa sakit kini terasa. Raka terus mendorong lalu menarik dirinya keluar.
Matanya melihat ke tubuhku, lalu menatapku heran.
"Kamu masih virgin, Eve," katanya takjub.
Aku mengangguk. "Khusus buat kamu Raka…" kataku sembari mengangguk memberinya izin.
"Kamu bilang kalau sakit, Eve," katanya lagi. Aku mengangguk. Dia melanjutkan kegiatannya, menusukku dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Begitu berkali-kali hingga aku merasakan rasa nyaman.
Dia terus memompakan dirinya ke dalamku, lalu tiba-tiba mengejang dan ejakulasinya terasa menembak dinding rahimku. Sampai akhirnya dia terkulai lemas di sampingku.
Itu pertama kali aku berhubungan intim dengan seorang pria. Aku sudah bersumpah untuk memiliki Raka selamanya, aku sudah menggunakan segala cara agar Raka tertarik padaku, dan aku berhasil. Hampir setiap hari kini aku bersamanya, menemaninya bercanda, mengobrol, makan, dan tidur.
Tinggal selangkah lagi, aku harus bisa memiliki dirinya, selamanya.
Mataku masih menatap nyalang, ke langit-langit kamarku, ke dinding-dindingnya yang bisu, dan pada udara malam yang dingin.
Telingaku tak pekak kini, suara tetesan air dan suara burung malam menemaniku.
***

Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.